Polemik Hari Santri Nasional

Healmagz.com - Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasion...



Healmagz.com - Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan.Kompas.com
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Presiden Joko Widodo telah menandatangani KEPPRES Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada hari kamis (15/10/15). Penetapan Hari Santri Nasional bertujuan untuk mengenang Resolusi Jihad para Ulama/Kiyai dan Kalangan Pesantren dalam merespons agresi militer belanda serta membantu Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 22 Oktober dipilih sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan momentum dikeluarkannya fatwa oleh K.H Hasyim Asy’ari dalam musyawarah bersama para Kiyai dari berbagai daerah tentang Resolusi Jihad, pada tanggal 22 Oktober 1945. Resolusi itu memuat seruan bahwa setiap Muslim wajib memerangi penjajah. Penetapan ini tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh masyarakat, khususnya umat Islam. Sebagian berpendapat bahwa Hari Santri justru akan mengganggu ukhuwah dan memunculkan polarisasi antara Santri dan Non-santri. Hari Santri Nasional merupakan bentuk penghargaan dari pemerintah kepada para Ulama dan kalangan pesantren yang telah memfungsikan ajaran agama untuk menghadapi tantangan zaman. Dan diharapkan, Semangat Resolusi Jihad yang sama dapat diterapkan dalam praktik-praktik kekinian dan lebih modern sesuai kebutuhan zaman. Banyak tanggapan beragam dari Kompasianer menyikapi polemik ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Di antaranya: 1. Hari Santri Nasional "Mereka Pantas Mendapatkan Pengakuan Tertinggi?" Inilah Salah Satu Jawabannya Asep Rizal mencoba menyelaraskan pandangan terkait Hari Santri Nasional, melalui sekelumit gambaran kecil dari suasana keberadaan para santri. Ini merupakan gambaran pengalaman nyata yang dirasakan oleh penulis sendiri ketika “diberikan mandate” untuk mereguk Ilmu dari sebuah Lembaga Kepesantrenan yang berada di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Santri dan Pesantren adalah 2 hal yang saling melekat. Keterlibatan para ulama dan kalangan pesantren dalam melawan penjajah saat merebut kemerdekaan memang perlu mendapat penghargaan. 2. Benarkah Santri Butuh Hari Santri Nasional? Ada rumusan menarik tentang pesantren dalam artikel yang ditulis oleh Jali ini, seperti “Pesantren adalah wacana yang hidup. Selagi mau, memperbincangkan pesantren senantiasa menarik, segar, aktual, dan—perlu dicatat tidak mudah, pesantren memiliki banyak dimensi terkait, tetapi ia sangat percaya diri (self-convident) dan penuh pertahanan (self-defensive) dalam menghadapi tantangan di luar dirinya. Ada gerak kehidupan yang dinamis dalam dunia pesantren, walaupun begitu, akan ada hal yang terlihat gugup jika zona itu berada dalam wilayah yang asing. 3. Wajah Ukhuwah Pesantren Babussalam Melalui artikel ini, FX Muchtar bercerita mengenai salah satu Pesantren yang menjadi korban fitnah oleh kaum Intoleran. Padahal, dengan mengusung kerangka ukhuwah, Babussalam memiliki wajah yg beragam. Sunninya sangat banyak, Syiahnya melebur di antara yang banyak itu. NU, Muhammadiyah nya bejibun, IJABI-nya juga ada. Ada yang PERSIS, apalagi yang PERSIB. Semua lebur dalam harmoni persaudaraan. Sekali lagi, tidakkah ini indah? Pada akhirnya sebuah perbedaan merupakan fitrah yang harus kita syukuri dan hargai, jangan sampai fitrah ini justru kita jadikan alat untuk saling memusuhi. 4. Hari Santri dan Revolusi Mental Tidak ada kata mustahil merubah mental dengan cepat (merevolusi) tidak lagi membutuhkan proses waktu berpuluh-puluh tahun. Yang penting tekad, mau bekerja keras dan ingat selalu bepedoman dengan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai santri sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Hari Santri Nasional tidak hanya dijadikan sebagai ajang adu gengsi antara santri dan non-santri. Lebih jauh lagi, esensi penetapan ini idealnya dijadikan ajang refleksi dalam menghormati pejuang dan perbaikan diri untuk kepentingan bangsa ke arah yang lebih baik. 5. Hari Santri: Pengakuan Sejarah atau Politik Belah Bambu? Sejak wacana penetapan ini muncul, memang banyak tanggapan dari kalangan masyarakat yang menilai ada kepentingan di balik ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional. Dalam artikelnya ini, Muhammad Ridwan mencoba menjelaskan secara runut mengenai tanggapan-tanggapan tersebut. Ada aspek politik yang jarang kita ketahui di luar “kekhawatiran timbulnya polarisasi dikalangan ummat Islam” yang sering muncul terkait Hari Santri Nasional. 6. Tak Terbantahkan Gus Dur Adalah Seorang Santri Ada sedikit beda antara hari santri dengan hari besar nasional lainnya. Perbedaan itu terletak pada hari libur. Jadi boleh dibilang hari santri bukan termasuk hari istimewa bagi rakyat Indonesia, sebab, Hari Santri Nasional hanya untuk diperingati saja, namun tidak dijadikan hari libur nasional. Mungkin di lingkungan pesantren setiap tanggal 22 Oktober akan dilakukan peringatan atau berbagai kegiatan syiar agama guna memperkokoh komitment peran santri di kancah nasional. Thamrin Dahlan juga mencontohkan beberapa tokoh modern lain dari kalangan pesantren yang dapat dijadikan panutan oleh kita saat ini, dengan prestasinya dan latar belakang yang berbeda. Banyak yang beragapan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional syarat kepentingan kelompok tertentu, sebuah deal-deal politik. Kita percaya bahwa setiap Hari Nasional memang sarat dengan kepentingan tertentu, ada tujuan dasar yang melandasi terciptanya sebuah peringatan tersebut. Dianggap perlu atau tidak, Hari Santri Nasional hakekatnya menjadi cermin bagi kita, bagaimana Islam –implementasi ajaran-ajaran islam- dapat diterapkan dalam elemen kebangsaan, melalui perpanjangan tangan ulama dan kalangan pesantren saat berjuang merebut kemerdekaan. (KML)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kompasiana/polemik-hari-santri-nasional_564f2eca2a7a617709f1c147
Nama

1812,1,212 mart,3,aa gym,7,abdul somad,6,abdullah hehamahua,2,abu dhabi,3,abu janda,8,aburizal bakrie,1,aceh,3,aceh timur,1,ade armando,3,ade londok,1,adi hidayat,2,adian napitupulu,2,adzan,1,agesti ayu,1,agus andrianto,1,agus maftuh,1,aher,1,Ahmad Dhani,14,ahmad yani,2,Ahok,133,AHY,5,aipda fajar indrawan,1,aksi 313,1,al azhar,1,Al Habsyi,2,aldi taher,2,alexis,1,ali mochtar ngabalin,6,allan nairn,1,Allya,1,alor,3,Amazing,3,ambroncius nababan,1,ambulans,1,amien rais,9,anang hermansyah,2,andi arief,3,andre rosiade,1,Andrew,2,angin puting beliung,1,angkatan udara,1,Anies Baswedan,63,anjing,1,annisa pohan,1,Ansor,2,anti PKI,1,antigen,1,apartemen,1,aqua,3,arab saudi,2,arie untung,2,arifin ilham,4,arifin ilham. muhammad alvin faiz,1,artis,10,ashanty,2,Asma Dewi,1,ASN,2,AstraZeneca,1,aswaja,1,ayu ting ting,1,ayus sabyan,2,aziz syamsuddin,1,babi ngepet,1,Bakar,1,bakrie,1,bali,2,bandung,2,bangkalan,1,banjarmasin,1,banjir,7,Bank,1,banser,1,bansos,1,banten,3,bappenas,1,bareskrim,1,Batak,1,batu,2,bayi,1,BBM,1,begal,1,bekasi,1,Bela Negara,1,BEM SI,1,BEM UI,1,bengkulu,5,bentrok papua,1,Berita,446,Berita Artis,21,berita heboh,25,Berita Internasional,12,berita nasional,53,Berita Viral,1,bima arya,7,Bioskop,1,bir,2,blitar,1,bobby nasution,1,bocah,1,bogor,17,bom,1,Bom Bandung,2,Bom Madinah,1,bosowa grup,1,BPJS,1,bpk,1,brimob,2,Bu Risma,1,Buaya,1,budi gunawan,1,bukittinggi,2,bully,1,BUMN,1,bungurasih,1,buni yani,1,bupati,1,buruh,3,busyro muqoddas,1,cak Nun,2,calon kapolri,2,Calon Pilgub,7,cantik,1,catut nama jokowi,2,Celana Dalam,1,chaplin,2,china,1,Cianjur,2,cinta laura,1,COD,1,Corona,5,Covid,5,Covid 19,10,Covid-19,16,covid19,1,CPNS,1,csr,1,Daerah,6,dajjal,1,dandim,2,danone,2,darut tauhid,1,dayak,1,dayung,1,de,1,debat,1,debat pilpres2019,5,debt collector,1,deddy mizwar,1,deliserdang,1,demak,3,Demo,30,demo1310,1,demokrat,17,Demonstran,1,denny cagur,1,denny siregar,4,Densus,1,Densus 88,1,depok,4,derry sulaiman,1,dewi tanjung,4,dharmasraya,1,diet,3,Dimas Kanjeng,1,din syamsuddin,5,dishub DKI,1,ditangkap,1,Djarot,4,Dki,15,Dki Jakarta,25,Doa,1,dokter,3,Dolar,2,Donald Trump,1,doni munardo,1,DPR,6,DPR RI,2,DPRD,5,DPRD kota Semarang,1,dr tirta,2,dukun,1,dul jaelani,1,e budgeting,1,e-ktp,2,edhy prabowo,7,EDY MULYADI,1,edy rahmayadi,1,eggy sujana,1,Ekonomi,4,emak emak,1,Encun,1,entertainment,46,erick thohir,2,esemka,1,exit,1,facebook,1,fadjroel rahman,1,Fadli zon,22,fahri hamzah,4,felicia tissue,2,felix siauw,2,ferdinan hutahean,8,First travel,1,fitnah,2,five vi,2,food,4,FPI,134,Fuad Amin,1,gading marten,1,Ganjar Pranowo,7,Gatot,2,gatot brajamusti,1,gatot nurmantyo,10,gaza,1,gempa,1,gereja,2,gerindra,10,Gibran,3,gibran rakabumi,1,gibran rakabuming raka,1,giring nidji,1,gisella,5,gita wirjawan,1,Go Pro,1,gojek,2,Golkar,1,Google Maps,1,Googlemaps,1,Gosip,3,GP ansor,1,gpi,1,Grab,1,Gubernur,22,gunung kidul,1,Guru,3,Gus Dur,6,gus nur,2,Gus Yaqut,6,habib,1,habib bahar,1,habib bahar bin smith,3,habib husin,1,Habib Idrus jamalullail,1,habib lutfi,1,habib lutfi bin Yahya,3,habib novel,1,habib rizieq,39,habib rizieq shihab,86,habib smith,1,had,1,haikal hassan,5,haji,2,halte,1,haltim,1,hanafi rais,1,harga daging murah,1,harga sapi murah,1,haris azhar,1,haris pertama,1,hasto,4,Hayya alal jihad,2,health,7,heboh,9,hendropriyono,1,henry subiakto,1,hidayat Nu,1,hidayat Nur Wahid,4,Hijabers,1,hijrah,1,hindu,1,hoax,6,hot,1,hotman paris,3,hrs,6,HTI,3,Hukum,17,Hutang,1,ibadah,1,ibnu chaldun,1,icmi,1,Idul Adha,1,ihsan tanjung,1,ILC,4,ilmuwan,1,Ima,1,imam besar,1,imam syuhada,1,india,3,indomaret,1,indonesia raya,1,indra j piliang,1,Indro Warkop,1,inews,1,Info,2,Inspiring,4,instagram,2,Internasional,25,irvan ghani,2,ISIS,6,Islam,17,israel,5,italia,1,ITS,1,iwan fals,2,jakarta,30,jakarta pusat,1,jakarta timur,1,Jakmania,2,jaksa,2,jamaah islamiyah,1,Jambi,1,Jason Tjakrawinata,1,jawa barat,2,jawa tengah,4,jeddah,1,Jefri Nichol,1,Jerinx SID,1,jihad,1,jilbab,1,JK,3,JKT48,1,JNE,1,jogja,5,joko widodo,3,Jokowi,128,jokowimantu,2,Jonru,6,Joseph Paul Zhang,1,Jozeph Paul Zhang,1,JPO,1,Juliari Peter Batubara,1,jumhur hidayat,3,Jusuf Kalla,6,Kabut Asap,6,kades,1,Kaesang,11,kafir,1,Kahiyang Ayu,1,kalibata city,1,Kalijodo,1,kalimantan,1,Kamera,1,KAMI,20,kapolda,1,Kapolreta,1,kapolri,2,karawang,1,Karni Ilyas,2,Kasus,1,Kasus Angeline,1,Kasus mirna,1,Kasus Sumber Waras,1,katolik,1,kebakaran,3,Kebakaran Hutan,5,kebon nanas,1,kecelakaan,1,Kekasih,1,kekerasan,1,keluang,1,Keluarga,1,kemenag,1,kemensos,2,kepala daerah,1,KH Ma'ruf amin,2,Khazanah,1,khilafah,1,khofifaf,1,kimia farma,2,Kisah,2,kisruh,1,Kivlan Zen,2,kjp,1,KKP,2,knpi,2,kodam jaya,1,komnas HAM,3,Kontroversi,75,kopassus,1,koperasi,1,Korea Utara,1,korona,1,korupsi,1,KPAI,2,kpi,1,KPK,31,kpps,1,KRI NANGGALA 402,7,Krisna Murti,1,kristen,2,kristiyanto,1,KSP,1,kucing,1,kurir,2,Kyai Marzuqi Mustamar,1,laci,1,Lain-lain,1,laiskodat,1,lapindo,1,laporkan,1,larissa chou,4,lebak,1,leni haini,1,lgbt,1,Lifestyle,5,listyo sigit prabowo,1,LPI,1,lsm,1,luar negeri,1,lucky alamsyah,1,Lulung,2,Luqman Arif,1,m,1,Ma'ruf,2,maaher attuwailibi,1,maaher tuwailibi,1,mabes polri,1,Mahasiswa,2,maher attuwailibi,14,mahfud,1,mahfud MD,17,Mahfudz MD,1,Mahkamah Agung,1,Maia Estianti,1,maia estianty,1,makassar,3,MAKI,1,malang,3,malaysia,1,maluku utara,1,Mantan,1,maranir,1,marinir,1,Mario Teguh,10,marrisa Haque,1,marsekal hadi tjahjanto,1,masjid,2,masker,2,mata najwa,5,maulid nabi,1,may day,1,Mayjen TNI Dudung Abdurcahman,1,medan,7,medsos,1,megamendung,1,megawati,8,melaney Ricardo,1,melly goeslaw,1,Meme,1,menag,2,mendikbud,1,menkes,2,menkumham,1,mensos,1,menteng,1,menteri,4,Menteri kesehatan,2,menteri KKP,2,Menteri Susi,2,mer-c,1,Merdeka.com,1,metro jakarta barat,1,metro jaya,1,Metropolitan,1,miras,1,MK,4,moeldoko,2,Moge,3,Motivasi,1,Moto GP,9,mrt,1,mualaf,1,muannas al aidid,2,muba,1,mudik,1,muhaimin iskandar,1,muhammad alvin faiz,4,muhammadiyah,3,MUI,9,mulan jameela,2,munamarman,2,munarman,13,Musibah,3,musni umar,2,Mustofa Nahra,2,nadiem makarim,2,Nahdlatul Ulama,7,Najwa Shihab,5,nani aprilliani,3,Narkoba,4,nasdem,1,Nasional,139,Nasionalisme,5,natal,1,natalius pigai,2,nawir,1,Negara,1,nenah arsihan,1,Nenek,1,neno warisman,4,Netizen,3,News,229,ngawi,1,Nikita,2,nikita mirzani,12,Nikon,1,Nila F moeloek,1,nisa sabyan,1,nissa sabyan,1,non muslim,1,novel bamukmin,5,novel baswedan,4,NTB,1,NTT,4,NU,10,nur Sugik rahardja,11,Nusantara,1,Obama,1,odading,1,ojol,1,Olah Raga,6,Omnibus,2,Omnibus Law,39,Omnibuslaw,6,Online,1,online shop,1,operasi zebra,1,Opini,30,ormas,1,OSIS,1,OTT,1,PA 212,6,padang,4,pak yus,1,palangkaraya,1,palestina,12,pamekasan,2,PAN,1,pancasila,1,pandemi,1,pangdam jaya,1,panglima TNI,6,partai masyumi,1,partai ummat,1,pasha ungu,1,pati,1,PBNU,1,PDIP,18,pecel lele,1,Pegunungan Kendeng,1,pekerjaan,1,Pelajar,1,Pelakor,1,pembangunan nasional,3,pembohong,1,pembunuhan,2,Pemerintah,1,pemprov,2,pemuda pancasila,1,pendeta,1,Pendidikan,2,Pengantin,1,Pengetahuan,2,penistaan agama,2,penulis,1,Perampok,2,perancis,1,perawat,1,Peristiwa,4,perkosa,1,permadi arya,3,perppu,1,perpres,1,pesawat,2,petamburan,4,Piala Presiden,1,Pilgub DKI,36,pilkada 2018,1,pilkada jatim,1,pilpres2019,7,pinjaman online,1,pistol,2,PKB,2,PKI,3,pkl,1,pkpi,1,PKS,11,PN Jakarta Timur,1,PNS,1,polda,1,Polda Metro Jaya,16,Polisi,41,POLITIK,273,Polri,10,polwan,1,pontianak,1,porno,1,PPATK,4,PPP,1,prabowo,3,prabowo subianto,5,prabumulih,1,prancis,11,Presiden jokowi,9,presiden.,2,prestasi,1,probolinggo,1,prostitusi online,1,Provokator,1,PSI,4,PT PAL,1,PTPN,2,Puan,3,Puan maharani,3,PUBG,1,pulau seribu,1,Putu Sudiartana,3,raffi ahmad,2,rahma sarita,1,ramadhan,1,rasis,5,Ratna Sarumpaet,3,ratu wiraksini,1,Rawajati,1,refly harun,8,Regional,1,reklamasi,1,remas al amanah,1,Reza Artamevia,1,riau,4,ribka tjiptaning,3,Ricuh,1,Ridwan Kamil,2,Risma,2,riza patria,1,rizal ramli,3,robby purba,1,rocky gerung,5,Roy Suryo,5,RS Siloam,2,RS UMMI,4,ruhut sitompul,2,Rupiah,2,RUU,2,sabili,1,sabu sabu,1,safeea,1,sahur,2,said didu,2,sam aliano,1,samarinda,2,sandiago uno,20,SARA,6,Saracen,3,satpol PP,2,satrio,1,saudi,1,SBY,24,sean purnama,1,sejarah,2,seleb,9,Selebritas,7,Selebriti,7,semrawut,1,sengketa pilpres 2019,2,serang,1,setnov,13,seto,1,sgm,1,sianida,3,sidang,8,Sidoarjo,1,sidrap,1,singapura,1,slamet maarif,1,sleman,1,sma 6,1,sman 58 ciracas,5,smk 2,2,Snack bikini,1,Soeharto,2,Soekarno,1,soekarno Hatta,1,solo,2,soni eranata,14,sosmed,1,SPBU,1,sports,1,Sri mulyani,4,sriwijaya air,3,subang,1,Sugik Nur Raharja,5,sukabumi,1,sukmawati,1,sukoharjo,2,sulawesi,1,Sule,1,sumatra utara,1,sunda nusantara,1,suparman nyompa,1,supersemar,1,Surabaya,4,surya paloh,1,sus,1,Susi,1,susi pudjiastuti,1,susu sapi,1,swab,1,syahganda nainggolan,5,syahrini,1,syekh Ali Jaber,1,Tahanan Kabur,1,tanah abang,3,Tanaman,1,Tangerang,5,tangerang selatan,1,tanjung balai,1,tanjung priok,1,taqy malik,1,Tarbiyah,1,tasikmalaya,2,taufik,2,Tax Amnesty,1,tegal,1,teh ninih,6,Teknologi,2,Teman Ahok,2,temanggung,1,tengku guru bajang,1,Tengku Zulkarnaen,19,Terawan,1,Tercyduk,2,Teroris,10,Tetangga,1,tetoris,1,Tiktok,5,Timor Leste,1,tips,9,tito karnavian,2,TKI,1,tni,14,tni al,1,toa,2,Tokoh,2,tol,1,tol cipali,1,Toleransi,2,tommy,1,TPU,1,trending topic,27,tri risma harini,5,Tsamara,1,tumpeng,1,TV one,2,TVRI,1,Twitter,1,UAS,7,UGM,2,UI,1,uje,1,umi pipik,1,Umroh,2,uni arab Emirat,1,uni emira arab,2,Unpad,1,Untirta,1,ustad abdul somad,1,Ustad Yahya Waloni,1,UU Cipta Kerja,8,UU ITE,2,vaksin covid 19,5,vaksin palsu,3,vaksin sinovac,4,Vandalisme,1,veronica koman,1,Video,2,Vina Garut,1,viral,36,viral berita heboh,1,viral heboh berita nasional,1,viral kecelakaan hari ini berita nasional,1,Virus,1,Vit,1,wagub jakarta,4,wahaby,1,warga miskin,1,Waria,1,wimar witoelar,1,Wiranto,3,WN Inggris,1,yahudi,2,yahya waloni,8,yahya hasyim,2,Yenni Wahid,1,YLBHI,1,Yogyakarta,1,yunanto wijaya,1,yunarto,1,yunarto wijaya,1,Yuni Shara,1,Yusuf Mansur,1,zaidul akbar,1,zakiah aini,1,zaskia mecca,2,ziarah,1,Zona Merah,1,zulkifli hasan,1,zulkifli muhammad,1,
ltr
item
Wartamenia: Polemik Hari Santri Nasional
Polemik Hari Santri Nasional
http://3.bp.blogspot.com/--IYKPmlROWU/VlCCwFNzxwI/AAAAAAAAAzA/VrvqUeAnKjM/s640/santri.jpg
http://3.bp.blogspot.com/--IYKPmlROWU/VlCCwFNzxwI/AAAAAAAAAzA/VrvqUeAnKjM/s72-c/santri.jpg
Wartamenia
https://www.wartamenia.com/2015/11/polemik-hari-santri-nasional.html
https://www.wartamenia.com/
https://www.wartamenia.com/
https://www.wartamenia.com/2015/11/polemik-hari-santri-nasional.html
true
5865075294842629428
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content